covid19
HIUKU BE LYKE: “EMANG KENAPA KALAU SAYA PUNYA SQUALENE?”
Kabar yang tersebar minggu lalu menjadi bahan pembicaraan tersendiri di media. Bahwa populasi hiu terancam diakibatkan isu peningkatan pemburuan merupakan berita hangat yang dikumpulkan. Salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia dirumorkan memiliki hipotesa, yaitu pemanfaatan minyak alami (squalene) dapat membantu dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Squalene umumnya ditemukan pada hati hiu dan bahan tersebut sering membantu dalam pembentukan respon imun yang kuat.
Squalene merupakan senyawa hidrokarbon yang dari dulu banyak digunakan dalam bidang farmasi maupun kosmetika. Squalene digunakan sebagai bahan penghalus kulit. Bahan ini juga mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan meningkatkan kapasitas penyaringan hati. Kini, squalene diproduksi dalam bentuk suplemen dan dijual secara komersil.
Jenis-jenis hiu yang umumnya dimanfaatkan dalam proses ekstraksi squalene yaitu hiu botol (Centrophorus atromarginatus) dan cucut dari marga Cetorhinus. Minyak hati hiu botol mengandung 90% squalene, vitamin A, dan omega. Cucut memiliki kadar minyak antara 20-60% dan vitamin A yang tinggi. Untuk menjaga keseimbangan, manfaat hiu secara ekologi juga dipaparkan.
Hiu merupakan top predator di lautan. Perubahan rantai makanan dan ketidakseimbangan jumlah herbivor dapat terjadi apabila hiu tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Hingga detik ini, sudah banyak jenis hiu yang statusnya terancam melalui situs IUCN. Penyebab-penyebabnya antara lain perdagangan yang tidak terkontrol maupun hiu sebagai tangkapan sampingan oleh nelayan. Bagaimana nasibnya bila ditambah pemburuan di atas?
Jelas, para pegiat lingkungan dan orang-orang yang berkepentingan dalam menjaga kelestarian hiu angkat bicara. Mereka menolak cara ini. Salah satu argumennya adalah hiu tidak berkembangbiak dalam jumlah yang tinggi. Pemburuan yang mungkin terjadi apabila tidak diimbangi dengan kemampuan reproduksi dan bertahan hidup dapat menyebabkan kepunahan.
Budidaya maupun penangkaran ikan yang umumnya dimanfaatkan dalam perekonomian maupun pelestarian belum menjadi solusi. Hal ini dikarenakan budidaya hiu bukanlah hal yang mudah. Salah satu fenomena yang dapat dijadikan pertimbangan adalah kematian massal hiu di Taman Nasional Karimun Jawa pada tahun 2019. Berikut ini file mengenai Tinjauan Status Perikanan Hiu di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai dasar data di lapangan yang lebih akurat.
https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/KKHL/BUKU/Tinjauan%20Status%20Pengelolan%20dan%20Konservasi%20Hiu.pdf?fbclid=IwAR12sP-32YnYmOhijlcPXsa_o9S4WRYl3BhdVvQvC3B8mP06PNEn6zzmBhs
Sumber:
Fatimah S, Radifar M, Arista A. 2018. Pengaruh pemberian minyak hati ikan hiu botol (Centrophorus atromarginatus) terhadap kadar kolesterol LDL tikus hiperkolesterolemia. Prosiding Seminar Nasional Vokasi Indonesia. 1: 106-109.
https://news.detik.com/.../hiu-mati-massal-di-karimun...
http://Outsider.com/.../coronavirus-vaccine-cause-shark.../
Saputra T, Claratika A, Gunawan S. 2014. Identifikasi kandungan squalene dari minyak nyamplung (Calophyllum inophyllum). Jurnal Teknik Pomits. 3(2): 151-153.
Sudjoko B. 1991. Pemanfaatan ikan cucut. Oseana. 16(4): 31-37.
Yulita N, Susioni DE. 2020. Nilai ekologi (ecological value) hiu hasil tangkapan nelayan di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur. Biotropika. 8(1): 19-25.

Tidak ada komentar